Blogger news

Jumat, 11 Januari 2013

Pramuka Runtuhkan Degradasi Moral

Di era globalisasi ini banyak sekali kebudayaan asing yang masuk di Indonesia tanpa melalui proses filterisasi. Bisa dilihat di berbagai bidang, misalnya saja yang paling condong dan sering kita lihat adalah kebudayaan asing dalam bidang seni musik. Banyak sekali genre musik baru (yang sekarang sedang marak adalah K-Pop dan J-Pop) yang masuk ke Indonesia yang berasal dari  luar negeri dan menjadi trend utama di dunia musik Indonesia. Sehingga seolah-olah Indonesia kehilangan jati diri dalam dunia musik. Contoh di bidang lain yang dapat kita lihat adalah mode berpakaian yang meniru budaya Barat dan itu sangat mencerminkan karakter dan moral diri. Budaya yang dibawa oleh negara asing adalah budaya memakai pakaian yang serba terbuka dan mode yang sebenarnya tidak pantas dan tidak sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia. Ini membuktikan telah terjadi kelunturan budaya moral atau bisa disebut degradasi moral dari bangsa Indonesia. Para remaja lebih menghargai kebudayaan bangsa lain dibandingkan budaya sendiri, lebih mencintai jenis musik dan gaya busana bangsa lain daripada pakaian adat Indonesia. Sangat miris dan membuat telinga kita merah ketika mendengar kabar demikian. Adapun contoh lain yang tidak kita sadari adalah autisme yang semakin meluas sebagai dampak pemanfaatan kemajuan teknologi yang tidak diindahkan. Coba saja kita lihat anak-anak SD bahkan TK jaman sekarang sudah tidak mengenal permainan semacam congklak, jamuran, cublak-cublak suang ataupun dolanan tradisional lainnya. Permainan yang menjadi trend mereka saat ini adalah berbagai macam gadget dengan berbagai merk. Mereka berlomba-lomba untuk memamerkan kehebatan gadget mereka, atau bahkan mungkin mereka terlalu asyik bercengkrama dengan gadget yang dimilikinya sehingga lupa dengan teman sebayanya. Anak-anak lebih suka bermain sendiri dengan gadgetnya, berkurung diri di kamar sehingga sangat sedikit waktu mereka untuk bersosialisasi dengan lingkungan. Dalam jangka panjang kondisi seperti ini akan sangat mempengaruhi psikis seorang anak. Degradasi seperti  ini merupakan degradasi yang sebenarnya memprihatinkan karena tanpa kita sadar semua itu telah menjajah moral kita terhadap kebudayaan bangsa Indonesia.
Nah, dari sedikit wacana di atas, dapat kita simpulkan bahwa akhir-akhir ini seiring dengan perkembangan teknologi terjadi pula pelunturan nilai budaya serta penurunan nilai moral yang kemudian sering disebut degradasi moral. Dalam hal ini sebenarnya siapa yang patut disalahkan? Pemerintah? Masyarakat? Orang Tua? Generasi Muda? atau Bangsa lain? Tak perlu kita bahas siapa yang salah, yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kita menghadapi kondisi tersebut kemudian memperbaikinya tanpa kita perlu tertutup dengan kemajuan teknologi dan budaya bangsa lain.
Dalam hal ini sangat dibutuhkan pendidikan moral dan karakter bagi generasi penerus bangsa, Salah satu bentuk usaha dalam rangka pendidikan moral adalah dengan mengikuti organisasi seperti Pramuka. Pramuka yang merupakan salah satu organisasi sebagai pendidikan karakter melalui kegiatan yang menyenangkan. Bukan hanya pengetahuan kepramukaan atau pengetahuan umum saja yang diajarkan disini, tapi juga pendidikan karakter sebagai peningkatan softskill. Banyak sekali hal-hal dan kegiatan dalam Pramuka yang secara konkret memberikan kontribusi dalam rangka memperbaiki moral bangsa. Contoh sederhananya yaitu dari kode kehormatan Pramuka yang berisi Tri Satya (tiga janji) dan Dasa Darma (sepuluh bakti). Kandungan isi yang terdapat dalam tri satya sendiri menjelaskan tentang enam hal :
1. Menjalankan kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2. Menjalankan kewajiban terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia
3. Menjalankan kewajiban yang terkadung dalam dasar Negara yaitu Pancasila
4. Menolong sesama hidup
5. Mempersiapkan diri atau ikut serta membangun masyarakat
6. Menepati Dasa Darma
Jika anggota Pramuka benar-benar selaras dengan kode kehormatannya ini, maka degradasi moral jelas akan tergusur. Apalagi anggota Pramuka bukan hanya Siaga, Penggalang ataupun Penegak saja, tapi juga Pandega, anggota Dewasa Muda, Anggota Luar Biasa, Anggota Dewasa. Ini berarti Pramuka memiliki keanggotaan dari berbagai lapisan umur yang mana bisa saling terjadi koordinasi.
Contoh dalam kegiatan Pramuka sendiri yaitu perkemahan. Di dalam perkemahan biasanya ada berbagai macam kompetisi, seperti K3 Pertendaan (Kebersihan, Kerapian, Keindahan Pertendaan), PBB, Mencari Jejak, Halang Rintang, Kesenian, dan masih banyak lagi. Bila kita jabarkan satu-satu, maka dari kesemua kompetisi tersebut memiliki makna yang luar biasa. Dimulai dari K3 Pertendaan yang mengajarkan setiap anggota Pramuka untuk selalu menjaga kebersihan, kerapian dan keindahan kapanpun dan dimanapun sekalipun dalam sebuah perkemahan. Ini sesuai dengan pengamalan Dasa Darma ke-2 "Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia". Kemudian PBB (Peraturan Baris Berbaris) yang mengajarkan kepada anggota Pramuka untuk selalu kompak dan tidak egois dalam melakukan suatu hal, selalu disiplin dan konsentrasi khususnya dalam menjalankan perintah. Gerak PBB tidak akan berjalan sesuai jika setiap anggota PBBnya egois dan tidak ada rasa percaya terhadap pemimpin PBB. Sebab dalam PBB sangat dibutuhkan kekompakan kelompok, rasa saling percaya, konsentrasi dan displin. Semua itu juga menjadi aplikasi dari Dasa Darma ke-4 "Patuh dan Suka Bermusyawarah", ke-7 "Hemat, Cermat dan Bersahaja", ke-8 "Displin, Berani dan Setia", ke-9 "Bertanggung jawab dan dapat dipercaya".
Selanjutnya adalah Mencari jejak, yang mana disini sangat dibutuhkan kerjasama tim (team work). Team work mengajarkan kita untuk selalu berinteraksi dengan orang lain di sekitar kita, mengingatkan kita sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi terhadap sesama. Halang Rintangpun memiliki kiasan sama, dimana setiap anggota Pramuka dititikberatkan pada kerjasama untuk mencapai tujuan bersama, dan mengharuskan anggota Pramuka untuk pantang menyerah dalam menghadapi tantangan. Dan untuk  kompetisi kesenian, anggota Pramuka diharuskan menampilkan kesenian tradisional yang mana secara tersirat ikut serta dalam memperkenalkan bahkan melestarikan kebudayaan Indonesia yang sudah mulai tergusur dengan masuknya budaya dari negara lain. Sungguh mencengangkan! Dari hal sepele namun bermakna luar biasa.




Sebenarnya masih banyak hal lain yang dapat kita kaji dari Gerakan Pramuka ini, salah satunya dari seragam Pramuka Indonesia -atas coklat muda bawah coklat tua- yang sama tanpa membedakan suku, ras, agama, warna kulit, kaya, miskin, kota, desa, dan sebagainya. Semua adalah sama. Disini yang menjadi dasar kebersamaan anggota Pramuka. Disinilah titik kebersamaan yang menjadikan setiap anggota Pramuka tidak enggan untuk mengadakan pertemuan, sehingga tercipta suasana keakraban dan kekeluargaan yang indah. Anggota Pramuka bisa bebas bersosialisasi dengan sesama anggota Pramuka dari daerah lain dalam indahnya perbedaan suku. Semua ini bisa menjadi ajang pelunturan sistem ras di Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar